Sabtu, 04 September 2010

Sultan Hamid II: DIKB,Garuda Pancasila dan Sejarah yg disembunyikan


Anda pasti tahu lambang negara kita Garuda Pancasila. Tapi tahukah anda pencipta dan penggagasnya? Sejarah kehidupannya sampai menciptakan lambang Garuda Pancasila? Pasti sebagian besar masyarakat Indonesia tidak tahu siapa Dia. Miris memang,sejarah yg seharusnya diketahui malah tak dikenal oleh bangsanya sendiri,bahkan ditutup2i karena dianggap pengkhianat negara. Apa penyebabnya?

Mari kita bahas...


"Siapa Sultan Hamid II?". Jujur,saya sebagai warga Pontianak dan Kalbar miris mendengarnya ketika bahkan warga Pontianak sendiri tidak tahu siapa Sultan Hamid II(apa lagi kalo ditanya siapa pencipta Garuda Pancasila?).
Saya ingin menghidupkan kembali sejarah yg terlupakan tentang siapa pencipta Lambang Garuda Pancasila,agar anak2 SD,SMP,SMA bahkan Perguruan Tinggi tidak heran lagi mendengar namanya.
Karena Bangsa yang baik dan maju adalah Bangsa yang mengenal serta menghormati para Pahlawan2nya.

GARUDA PANCASILA
Menurut Wikipedia Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia dan nama sebuah lagu nasional Indonesia. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno. Garuda merupakan burung dalam mitologi Hindu, sedangkan Pancasila merupakan dasar filosofi negara Indonesia. Lambang negara Garuda diatur penggunaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958.

Sultan Hamid II

-Sultan Hamid II-

Menurut Wikipedia Sultan Hamid II yang terlahir dengan nama 'Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta,30 Maret 1978 pada umur 64 tahun) adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia -- walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak --keduanya sekarang di Negeri Belanda.
Pendidikan
Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak,Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Belanda hingga tamat dan meraih pangkat Letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Sultan Hamid II juga pernah memegang peranan penting dalam pemetintahan RIS(Republik Indonesia Serikat) pada saat itu,yaitu sbg Menteri Negara Kabinet Republik Indonesia Serikat (20 Desember 1949 - 5 April 1950)

Sejarah yang terlupakan
Hal lain yang juga dilakukan untuk menghilangkan eksistensi Sultan Hamid II adalah perihal siapa yang menjadi desainer dari Lambang Negara Indonesia yang masih terpakai hingga saat ini, yaitu Burung Garuda (biasa juga disebut Garuda Pancasila). Meski sejarah menutup-nutupi, namun sumbangsih Sultan Hamid II selaku perancang Lambang Negara Indonesia tersebut tak boleh dilupakan.


-ini dia Keraton Kadariah Pontianak,rumah sekaligus pusat pemerintahan Sultan Pontianak pada waktu itu-

Kepemimpinan Sultan Hamid II sebagai Sultan Pontianak

Sultan Hamid II mempunyai kepemimpinan sebagai Sultan/Raja Pontianak yg sangat merakyat,begitu banyak peranannya terhadap KALBAR agar provinsi ini tidak menjadi provinsi terbelakang,
Sultan Pontianak seorang lulusan Akademi Militer Breda Belanda, menjadi perwira tentara KNIL (Koninklijk Nederland Indische Leger) dengan pangkat Major, Sultan Hamid II mempunyai jejaring diplomatik yang amat sangat berpengaruh dalam upaya mendapatkan pengakuan atas kedaulatan negeri ini. Namun kedekatannya dengan pemerintahan kolonial Belanda kerap dijadikan argumentasi bahwa Sultan Hamid II adalah pengkhianat.

Apalagi ketika tokoh ini menjadi ketua sebuah daerah federasi dengan nama Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) pada awal tahun 1948 yang membawahi daerah swapraja dan neo-swapraja di Kalimantan Barat. Pemerintahan DIKB terdiri dari 40 orang anggota dewan legislatif yang terdiri daripada 15 orang wakil swapraja dan neo-Swapraja, 8 orang wakil golongan etnik Dayak, 5 orang wakil etnik Melayu, 8 orang wakil etnik Cina, 4 orang wakil daripada Indo Belanda. Sedangkan pemerintahan DIKB dipimpin Sultan Hamid II selaku kepala daerah dengan wakilnya yaitu Nieuwhusysen yang kemudian digantikan Masjhoer Rifai’i. Dalam menjalankan pemerintahan sehariannya, Sultan Hamid selaku kepala DIKB dibantu oleh sebuah Badan Pemerintah Harian (BPH) yang beranggota 5 orang, iaitu J.C Oevaang Oeray, A.F Korak, Mohamad Saleh, Lim Bak Meng, dan Nieuwhusysen.

Lantas kemudian memimpin delegasi BFO yang lebih setuju negara ini sebagai negara federal pada Konferensi Meja Bundar (KMB) Den Haag. Maka cukup sudah alasan untuk menyingkirkan dan mengubur dalam-dalam jasa-jasa Sultan Hamid II.

Sultan Hamid II adalah seorang federalis, namun bukan berarti beliau seorang yang tidak nasionalis. Ia mendukung pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS), tetapi ia tetap menolak keinginan pemerintah Belanda untuk menjadikan Kalimantan Barat sebagai sebuah negara bagiannya. Hal ini yang dihilangkan dari sejarah! Padahal, kalau Sultan Hamid II dengan kecakapan dan keluasan jaringan diplomasinya pada saat itu, jika memang menginginkan DIKB menjadi negara bagian Belanda, maka boleh jadi Kalimantan Barat sekarang bukan bagian dari Republik ini.


-Takhta Sultan Pontianak. Warna kuning merupakan warna khas Melayu,begitu pula di Pontianak-

Cita-cita Sultan yang tak tersampaikan
Cita-cita Sultan Hamid II bersama-sama ketua-ketua daerah swapraja dan neo-swapraja lainnya sederhana sekali, bahwa dengan negara federalis, mereka menginginkan kesepakatan seperti yang telah mereka buat yakni untuk membentuk pemerintahan Kalimantan Barat sebagai sebuah daerah istimewa, sebagaimana kedudukan Kesultanan Yogyakarta yang berstatus sebagai provinsi daerah istimewa yang masih wujud sampai saat ini. Tapi karena federalisnya ini Sultan Hamid menjadi korban perjuangan politiknya bahkan seumur hidup jatuh dalam fitnah ‘pemberontak.’

Sultan Hamid II dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Denhaag, sebagai wakil negara-negara bagian dan daerah federasi dengan gigihnya memperjuangkan agar negara Indonesia tetap menjadi sebuah negara federal dengan Republik Indonesia Serikat (RIS). Selaku ketua DIKB, Sultan Hamid II berusaha agar status Kalimantan Barat sebagai daerah istimewa mendapat pengakuan resmi dalam perundingan dengan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemerintah Belanda.

Secara singkat perjuangan tersebut tidak sia-sia, kedudukan Kalimantan Barat sebagai daerah istimewa dan negara-negara bagian serta daerah federasi kemudian mendapat pengakuan dalam konstitusi negara RIS (Republik Indonesia Serikat). Pengakuan terhadap daerah istimewa Kalimantan Barat itu sesuai dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditanda tangani di Den Haag tentang pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS), serta persetujuan pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan pada tahun 1949 kepada pemerintahan RIS.
Namun sudah menjadi nasib Kami(warga KalBar) dan Kalimantan Barat, selepas Sultan Hamid II ditahan hingga wafat tanpa kehormatan, DIKB kemudian dibubarkan pada penghujung tahun 1950. Kalimantan Barat statusnya hanya menjadi sebuah provinsi dengan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956. Hilang sudah cerita DIKB yang menjadi cita-cita Sultan Hamid II dan Para Raja, Sultan, Panembahan dan Tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Kalimantan Barat. Maka lepaslah sudah cita2 sang Sultan,cita2 untuk meningkatkan martabat warganya.

Begitulah gan penyakit negara bangsa yang kerap dengan mudahnya menghilangkan jasa2 dan apa2 yang telah diperbuat seseorang hanya karena adanya perbedaan pandangan. Hanya karena adanya perbedaan pandangan terhadap pemimpin menjadikan Seorang Sejarawan menjadi terlupakan! Terutama jika bertentangan dengan rezim yang berkuasa.
Karena rezim yang berkuasalah yang menentukan seperti apa sejarah hendak dicatat dan diceritakan olehnya kepada generasi2 selanjutnya.
Saya bangga terhadap Sultan Hamid II,dan seharusnya itu pula yg anda2 rasakan setalah membaca artikel ini.(-Chandra-)

Sebenarnya bnyak bgt gan cerita2 ttg keluarga Sultan Hamid II,tapi karena kurangnya informasi jadi ane post segini aja dulu ya. Kapan2 saya cari lagi info2nya di kota saya.



-Chandra-
Categories: ,

11 komentar:

  1. hhhhmmmmmmmm... agak kecewa gan... tadi saya mengharapkan sejarah tentang garuda pancasila, karena judulnya lebih menggambarkan itu.

    BalasHapus
  2. politik.....
    malah jadi tulisan pembelaan thd seorang narapidana politik toh??

    BalasHapus
  3. kok ke politik larinya sieh??? pembaca kecewa nieyh!!!!!!!

    BalasHapus
  4. Mantap gan

    aq orang pontianak dan merasa ingin ikut memberitahu yg lain mengenai sejarah yg di tutupi ini

    BalasHapus
  5. Saya adalah warga kalbar asli...
    Apa yang terjadi pada Sultan Hamid II adalah egosentris para pimpinan terdahulu...

    BalasHapus
  6. Kalau kamu tau sejarahnya, apakah kamu juga tau RAHASIA penting dibalik sejarahnya? I doubt it....

    Tahukah kamu gara-gara dia Indonesia jadi berada dibawah ikatan kuasa kegelapan?
    Misalnya symbol rantai, tahukah kamu makna terselubung dari symbol itu adalah untuk mengikat hak azasi manusia?

    Tahukah kamu kalau dia adalah salah satu "alat" penguasa kegelapan untuk mengikat Indonesia?
    Itu sebabnya dia terlahir di Pontianak yang artinya ........., maaf cari sendiri artinya yah...

    Saya belum berani mengupas satu persatu lebih dalam, masih terlalu dini, masalahnya tidak sesederhana seperti yang kamu tau.

    Kalau kamu sungguh-sungguh terbeban untuk menyelamatkan Indonesia khususnya Pontianak, silahkan selidiki sendiri mulai dari sejarah Pontianak sampai hal-hal yang tersembunyi dibalik Pancasila.

    Kalau kamu sungguh-sungguh rindu mencari kebenaran, kamu pasti akan ketemu, all the best.

    BalasHapus
  7. wah,,atas ane agak gimana gitu,,situ tuhan?pontianak itu memang artinya kuntilanak,,dan itu cuma penamaan,,ada yg salah,,jangan sara donk,,oh ya,,kalian tidak mengetahui dan ragu atas sejarah kami sebab kalian selalu di sempalkan dengan kebenaran yg di ajarkan pemerintah tanpa melihat fakta dan menyaringnya terlebih dahulu,,,itu sebab kalian bukan orang KALBAR,,

    BalasHapus
  8. Wah, maaf jika anda salah kaprah thdp judulnya, jujur ini artikel lebih menjelaskan ttg kehidupan Sultan Hamid II. Karena judulnya 'Sultan Hamid II: DIKB,Garuda Pancasila, dan Sejarah yang disembunyikan.', jadi lebih banyak membahas ttg kehidupan Sultan Hamid II daripada sejarah lambang Garuda itu sendiri.

    Dan untuk masalah politik, Saya minta maaf tapi Saya hanya menceritakan FAKTA yg terjadi dilapangan, di bagian bawah artikel tertulis, 'Hanya karena adanya perbedaan pandangan terhadap pemimpin menjadikan Seorang Sejarawan menjadi terlupakan! Terutama jika bertentangan dengan rezim yang berkuasa.'.
    Sepertinya sudah jelas.

    Terimakasih sudah berpartisipasi di blog Saya.

    BalasHapus
  9. Jika anda ingin mengetahui sejarah Lambang Negara RI Elang Rajawali Garuda Pancasila diperlsilahkan anda masuk ke Blok Rajawali Garuda Pancasila, karena saya orang yang pertama mengangkat dalam bentuk Tesis di UI Sejarah Hukum Lambang Negara RI tahun 1999. Ketika saja Rajawali Garuda Pancasila dan anda bisa melihat dokumen melalui You Tube

    BalasHapus
  10. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali .............




    bisnistiket.co.id

    BalasHapus

Komentar Anda adalah sebuah bentuk penghargaan bagi Saya sebagai penulis. Berkomentarlah dengan sopan, Terimakasih.
(sertakanlah Linkback ke Link ini jika ingin Copy-Paste)